Posted in Life of Ours

The Battle We Didn’t Choose

Suatu ketika, saya pernah menemukan postingan bertulikan seperti ini di Instagram;

“How do you write so well?”

“With pain and paper.”

Memikirkan tentang tulisan itu saya lantas mengamini, rasanya memang ada benarnya. Kalau dipikirkan lagi, banyak Musisi yang menjadi hits maker ketika mereka sedang berada dalam keadaan terluka. Pun dengan para Penulis, ambil saja contohnya JK Rowling. Ketika ia mulai menuliskan buku pertamanya tentang Harry Potter di kafe dengan hanya bermodalkan kertas tissue, ia sesungguhnya sedang dalam keadaan terpuruk.

Jadi, menggunakan pain & paper untuk membuat tulisan atau karya lainnya mungkin saja berguna bagi sebagian orang lain. Sebagai contoh, ketika dulu masih mengalami masa masa patah hati, saya termasuk orang yang rajin menumpahkannya dalam bentuk tulisan. Mau hasilnya seperti apa, pokoknya saya hanya menulis. Beberapa ada yang layak dibaca sambil tersenyum senyum bangga, sisanya dibaca sambil meringis membayangkan kealayan saya dulu. But still, I wrote them up.

Dan kemudian, saya memasuki fase kehidupan lain yang ‘sok sibuk’ sehingga selalu punya alasan; gak punya waktu buat nulis/ngeblog! Alasan lainnya, saya bahagia, makanya saya jadi gak punya bahan buat nulis. Again, its just an excuse. Lah ya mosok mau patah hati dan menderita terus hanya supaya bisa menulis bagus, ya tho.

Until then, something happens….

I’m just recently diagnosed with breast cancer. My first Oncologist said, it’s stadium 3B. Then I decided to seek 2nd opinion through one and only Breast Surgeon Doctor in Indonesia. She didn’t bombard me about those stadium and grade things, she just said that it’s highly suspicious tumor, and we need to do frozen biopsy then measure them to figure out things comprehensively. If its okay, we just need to remove the lump. But if its otherwise, then double mastectomy is the only solution.

Dan sekarang, saya sudah punya semua alasan untuk menulis lagi. Tapi saya tetap malas, Ha 🙂

Dan saya berfikir tentang dia, my most favorite guy in my whole world, suami saya. Keinginan saya adalah sembuh dan menua bersama sama, beruban, berjalan terhuyung huyung bersama sambil menggenggam tangan satu sama lain. Tetapi, seadainya saya tidak beruntung untuk itu, setidaknya saya memiliki sesuatu dimana dia bisa selalu berkunjung dan melihat kebelakang lagi tentang hari-hari istrinya.

Itu sebabnya, saya harus terus menulis. Saya harus selalu bahagia, tidak peduli apapun yang terjadi. Karena saya berjuang bukan hanya untuk saya sendiri, melainkan untuk suami saya, orang tua, dan adik adik saya.

This is indeed a battle we didn’t choose, but I decided to beat it gracefully.

#fingerscrossed

 

Advertisements
Posted in Thoughts

My Fave Music Genre; Country Music

As I spent my six years of Junior and High school period at boarding school environment, I wasn’t really flexible in exploring music genres that I’d like to hear. At the end of the day, I never really had fave music at all.

Until in 2012, someone who once had crush on me (and vise versa) back when we still worked at Martabe Gold Mining suddenly said Hi and asked me to listen on Lindi Ortega; Cigarettes and Truckstops.

I could say, I fell in love immediately to her. The voice and lyrics are great. Its perhaps wasn’t my fate to be together with the guy I once had crush on, but surely country music is becoming the best match for me since then. And for this, I had to thank him to introduce me to this kind of genre. Along the way, country music grew on me very well. What I like the most about country music is because you could easily relate to every lyrics as they tell real life stories or values you could absorb into you. As of now, I listen to other genres as well, but country music is always my top list.

Now, I give you….Mrs Lindi Ortega with her Cigarettes and Truckstops

 

 

Posted in Uncategorized

Tentang Sepi…

“Saat kita bergandengan tangan di antara kerumunan orang banyak, kita menggunakan tulang, otot, dan urat kita agar tak terlepas. Itulah semua yang kutahu soal cinta. Apa lagi yang ada dalam cinta? Selain dari fakta,  sebenarnya aku tak mampu melepaskan tangan itu.”

Unknown

 Kutipan syair puisi diatas dalam salah satu scene di drama korea; The Inheritors – sebenarnya biasa saja. Tapi setelah dipikirkan lagi, kemudian menimbulkan tanya “bagaimana masing-masing kita memandang cinta?”

Saya lupa kapan saya mulai benar-benar memikirkan cinta. Seingat saya, tidak ada cinta hingga masa-masa kuliah saya berakhir. Beberapa ‘cinta’ mungkin memang sekali dua kali menyapa, tapi tidak pernah ada yang pernah benar-benar membekas. Hanya sekedar iseng atau penasaran.

Tumbuh besar jauh dari orang tua sejak kecil membuat saya kekurangan dalam mengeja perasaan. Saya hanya tau menyembunyikan rasa. Saya lebih sering menjadi bodoh dalam hal seperti ini, yang ketika disadari semuanya sudah sangat terlambat.

Sampai sekarang, saya juga masih belum memiliki defenisi cinta yang solid. Tapi saya tau, ada seseorang yang menggenggam tangan saya. Seseorang yang saya tau akan tetap disamping saya, dan mungkin akan tetap menggenggam tangan saya tak peduli masa masa seperti apa yang akan dijalani.

Sebagai seseorang yang lebih cakap mengeja kesepian, saya tau saya tidak boleh menyia-nyiakan genggaman erat seseorang. Saya hanya harus terus menggenggamnya dan tidak melepaskannya.

 

Posted in Travelling

Lebaran Trip

Sudah jadi kebiasaan kita setiap kali ada kesempatan ngumpul entah pas Lebaran atau lagi ada liburan panjang kita sekeluarga pasti nyempetin untuk jalan rame rame. Lebaran kemarin kita sebenernya berencana pergi ke Pulau Banyak di Aceh Singkil, tapi karena waktu yang gak terlalu banyak akhirnya kita memutuskan untuk jalan ke Bukit Lawang.

Dari awal, pengennya nginep di Ecolodge. Tapi kok ya pas tanggal yang dimau itu kamarnya full-booked. Saya yang clueless sama penginapan lain pun akhirnya malas-malasan, dan mulai eyeing ke tempat lainnya, di Sibolga. Sampai suatu siang pas lagi internal meeting adek yang cewek sibuk pang ping ngasih tau kalau ada kamar di Ecolodge yang kosong. Pas dicek beneran, jadi saya langsung booking 2 kamar Siamang dan 1 kamar Hornbill (belakangan nyesel booking 3, karena sebenernya 2 pun cukup buat rame rame).

Kita sampai disana jam 12an, dan gak pake nunggu lama sudah bisa langsung masuk setelah sebelumnya disuguhi welcome drink mereka, jus markisa. Kelar naruh barang, kita mulai cari informasi soal guide buat jungle trekking. Kalau di harga resmi sih sekitar 375k plus 200k kalau mau tubing. Sempat ngehek awalnya hehehe, secara kita ada 6 orang minus mama dan adek paling kecil yang baru 9 tahun. Untungnya bisa ditawar, soalnya kita kesini salah satunya kan emank pengen jungle trekking – kalau di kamar doank mah ngapain jauh jauh ya. Nah lucunya, sebelum sampai ke Ecolodge, baru aja masuk gerbangnya itu kan sudah banyak banget orang yang stop buat bayaran ini itu. Kita bayar 2 x, sekali di pintu gerbang, sekali lagi berapa meter dari pintu gerbang katanya parkir. Pas tau kita pada mau nginep di Ecolodge ada 2 orang yang ngikutin kita terus pake motor, seolah olah mereka mau nunjukin jalan. Kita berhenti, mereka berhenti. Kita muter, mereka nyariin kita. Sampai akhirnya kita bilang kita jalan sendiri aja, udah tau tempatnya – walopun sebelumnya belum tau, hehe. Abis sebelnya, kurang lebih kalau kita mau beli baju terus diikutin mulu sama mbak-mbaknya. Dia emank bilang kita orang Ecolodge juga sih, tapi kitanya bergeming. Sampai akhirnya pas tubing, kita ketemu abang itu lagi, taunya dia yg bawa bannya, hahahaha. Kita yang tadinya misuh-misuh sampe pada salaman, saking gak enaknya.

Untuk jungle trekking kita ambil yang 3 jam, yang paling murah 🙂

 

Nyari orang hutannya lumayan juga, soalnya lagi gak banyak keluar. Jadi mesti dipancing sama suara suara dari guidenya. Tapi kalau monyet yang jenisnya Thomas ‘something’ itu gampang ditemukan, apalagi kalo udah malas nyari makan, soalnya tinggal minta pisang dari guidenya.

Berikut penampakan kamar dan suasana di Ecolodge waktu itu. Saya cuma sempat foto foto kamar hornbill, karena kamar siamang keburu diacak-acak. Tapi kamar-kamar disini rata rata bagus, toiletnya luas, tempat tidur lengkap pake kelambu, dan gak perlu ac karena sudah dingin juga. Salah satu kekurangannya cuma listrik yang bolak balik mati idup, tapi ini kayanya sudah biasa ya di Sumatera. Bangun pagi, keluar kamar semuanya hijau. Jalan dikit kedepan ada sungai kalau mau nyemplung. Suasananya enak banget deh.

This slideshow requires JavaScript.

Kita juga sempat main main di Restoran Kapal Bambunya. Btw, Kapal bambu dan isinya ini semua terbuat dari bambu loh, didesain oleh Arsitek asal Swiss – Lukas Zollinger. Makanannya so far enak, tapi gak banyak sambal disana. Mungkin karena rata rata tamunya bule kali ya.

This slideshow requires JavaScript.

Pada akhirnya, kemanapun kita semua pergi, keluarga selamanya akan selalu menjadi tempat kita pulang, meski hanya sekedar untuk memeluk kenangan-kenangan yang kadang terlupakan.

Processed with VSCO
Processed with VSCO
Posted in Review

Saya, Mas Iwan, dan Adiyasa Catering

Ini sebenarnya adalah hutang postingan saya sejak 2013. Luar biasa telat dan malasnya saya menulis.

Okay, begini ceritanya. Sebelum menikah saya seperti kebanyanyakan calon pengantin lainnya mulai sibuk browsing sana sini untuk nyari wedding organizer yang ok. Nah, kenyang baca baca dari weddingku.com ada 1 nama yang sering kali muncul dan sering dianggap sebagai life savior. Namanya Mas Iwan. Selidik punya selidik, dulu doi kerja di Nola Catering. Tapi ketika dikontak pertama kali, gayung tak bersambut – saya dicuekin. Ya sudah, karena ternyata saya juga menikahnya di Medan, gak jadi masalah banget. Tapi pas ngerencanain Ngunduh Mantu di tahun 2013, saya jadinya kan harus nyari lagi, dan rasanya malaaaaaaaaaaaas banget test food sana sini hanya untuk compare 1 dan yang lainnya. Saya inget Mas Iwan lagi, dan dari berita terakhir katanya sudah pindah ke Almatra Catering. Coba kontak lagi, tapi ternyata belum beruntung – saya masih aja dicuekin. Sampai akhirnya saya jadi malas sendiri dan memutuskan untuk test food ke vendor yang lain.

Sampai suatu ketika saya baca-baca lagi dan tau kalau Mas Iwan ini katanya sudah punya catering sendiri, Adiyasa Catering. Kalo promosi orang orang sih katanya fast response banget. Ok, lets try, saya kirim email siang sekitar jam 2-an, dan kayanya gak sampe berapa menitan sudah dibalas sama salah satu marketingnya, Mas Wikan. Intinya, kita kenalan, nyobain makanannya semua, datangin event-event nikahan yang kita bisa datangi, sampai akhirnya saya curcol gimana awalnya saya ‘mengejar’ Mas Iwan ini. Saya suka iseng ngungkit-ngungkit bagian yang ini dan doi pasti langsung guilty feeling hihihi. Ternyata dulu dulu pas saya dicuekin Mas Iwannya sedang ‘galau’.

Let me tell you ya, Mas Iwan ini orangnya luar biasa baik. Saking baiknya saya kadang suka bingung doi jalanin bisnis atau yayasan, abis orangnya gak tegaan banget sama calon-calon pengantinnya. [Makanya ini sebenernya pesen pribadi saya sih, vendor-vendor catering yang menyiapkan acara pernikahan kita itu kan bayar dan mengeluarkan uang juga ya untuk bayar vendor-vendor mereka, jadi dari kitanya yang capeng ini kalau mau nawar juga jangan sadis sadis amat minta diskon dan bonus-bonusnya, kita toh mau nikah sudah siapin budget juga kan].

Kalau saya bilang ya, service Adiyasa dan orang-orangnya ini istimewa banget. They’re always available anytime you need them. Walaupun ketika menjelang hari H saya, Mas Iwan sempet sakit (rokok kopi ya mas, kurang-kurangin), tapi doi tetep tuh usahain dan bela-belain datang cek acara saya, walaupun setelah itu info yang saya denger, doi tumbang lagi dan harus istirahat total.

So, kalau ada teman-teman yang mau nikah dll, jangan sungkan untuk sowan ke Adiyasa Catering ya. Orang-orangnya gak diragukan lagi ramah dan cekatannya. Makanannya, enak banget! Dekorasi, Make Up, sampai urusan foto tinggal milih. Dan yang paling penting, mereka itu bukan sekedar Wedding Organizer buat saya, tapi sudah jadi teman. Hellow, WO mana coba yang setelah 3 tahun acara berjalan masih suka ngirimin macem-macem kalau ada kesempatan.

So, selanjutnya biar foto aja yang bicara ya. This gonna be a bit long post, so hang in there.

Album_Ika_Oho2

Album_Ika_Oho11

Ika_oho-2124Ika_Nugroho-2158Ika_Nugroho-2085Ika_Nugroho-2093

So, masih bingung mau kemana? Mas Iwan nungguin telpon kamu-kamu tuh 🙂

Posted in Life of Ours

KEPUTUSAN EKSEKUTIF : DOUBLE BED ATAU BATHTUB

Saya dan suami saya – Oho – sudah terlalu pusing dengan pekerjaan kami masing-masing sehingga memutuskan untuk pergi dan melakukan liburan singkat. Hanya sebentar saja, dan dekat. Cuma di Bandung. Kami memutuskan untuk membeli voucher hotel di Agoda dimana pilihan kami jatuh diantara Savoy Homann atau Prama Grand Preanger. Kami akhirnya memutuskan memilih Savoy Homann dengan fasilitas bathtub dan city view.

Kompromi dimulai ketika saya menelpon Savoy untuk memastikan reservasi kami. Petugas reservasi yang ramah itu memastikan reservasi kami dan tak lupa member informasi dimana saya harus memberikan ‘keputusan eksekutif’ dengan segera. Ini adalah soal memilih double bed dengan standing shower atau twin bed dengan bathtub. Saya dan Oho jelas tidak menyukai ide mengenai twin bed bahkan meskipun itu disatukan, hey…, rasanya tetap akan terasa aneh dibagian tengah kan? Namun sayangnya saya juga sudah menghayal menghabiskan waktu melamun berendam di bathtub.

Saya membiarkan petugas hotel diseberang menunggu beberapa saat ketika saya masih sibuk menimbang antara bathtub atau double bed. Hingga akhirnya dengan sedikit berat hati, saya memutuskan memilih double bed. Urusan bathtub pada akhirnya tidak terlalu penting dibandingkan dengan tempat tidur lapang yang tidak perlu bergeser-geser jika kami berdua ‘mengacau’ 🙂

Lagipula saya istri yang malas mandi, sementara suami saya hobi tidur. Jadi, double bed dengan standing shower rasanya tidak akan menjadi pilihan yang terlalu buruk, bukan?

Posted in Life of Ours

Persaingan tak penting itu…..

Processed with VSCOcam with g3 preset

Sister is probably the most competitive relationship within the family, but once the sisters are grown,it becomes the strongest relationship.

Margaret Mead

Kali ini saya akan mulai dengan satu puisi tentang saudara perempuan.

Meski banyak persamaan,
Mereka berbeda
Meski saling menyayang,
Mereka saling memukul
Kadang mereka saling membenci,
Lalu saling memeluk dan mencium
Walau tak pernah benar-benar saling marah,
Mereka terus bertengkar
Mereka sama tapi juga berbeda,
Mereka bersaudara
Mereka bersahabat karib,
Mereka cerminan satu sama lain

Hope Fillingim

Dalam keluarga, saya memiliki 2 adik perempuan serta seorang adik laki-laki. Namun yang akan saya ceritakan kali ini adalah tentang adik perempuan nomor dua saya, Deya. Karena orang tua kami sudah merantau sejak kami kecil, maka praktis kami berdua selalu diasuh oleh kakek nenek dari pihak papa. Kami seharusnya kompak, tapi bukan begitu kenyataannya. Meski masing-masing kami memiliki kelebihan, dia jauh lebih cantik dan saya jauh lebih pintar, namun saya tak pernah fokus pada kelebihan saya. Saya hanya terlalu memperhatikan, kenapa dia bisa lebih cantik dari saya?

Pikiran hal seperti ini lah yang membuat hubungan kami berjarak sebagai saudara perempuan. Saat masih di Sekolah Dasar (SD), setiap kali dia ingin ikut bermain bersama, saya pasti tak pernah mengizinkannya. Pun setiap kali saya ingin main keluar dengan teman-teman yang lain dan dia merengek ingin ikut, lagi-lagi saya melarangnya. Waktu itu, saya hanya tak ingin dekat-dekat dengannya dan dibanding-dibandingkan secara fisik. Bahkan saat kami masuk sanggar tari bersama saat saya duduk di kelas VI dan dia kelas III SD, lagi-lagi saya membuat jarak. Ketika ada suatu perayaan yang mengharuskan kami menari tarian Gondang Sambilan dan berpasangan, saya bahkan sampai meminta untuk bertukar pasangan karena sebelumnya saya berpasangan dengan dia. Saat SD saya bisa dikatakan absen sama sekali untuk hadir sebagai kakaknya karena terlalu ‘cemburu’ pada fisiknya.

Sayangnya, hal ini ternyata masih berlanjut ketika saya masuk sekolah asrama pada tingkat SMP dan SMA. Orang tua yang ingin kami saling menjaga satu sama lain pun akhirnya memasukkan adik saya ini ke satu sekolah yang sama dengan saya. Pada dasarnya, saya hanya mengulang apa yang saya lakukan sebelumnya. Saya tak pernah terlalu peduli padanya. Padahal yang tak pernah saya sadari adalah, bahwa sebenarnya dialah yang selalu merasa berada didalam bayang bayang saya. Adik saya memang jauh lebih cantik. Namun disekolah tak pernah ada yang membanding-bandingkan kecantikan kami. Hanya ada para guru yang membandingkan si kakak selalu juara kelas dan pintar ini itu. Namun semua itu luput dari perhatian saya. Karena sayalah yang selalu bertingkah layaknya orang paling malang didunia karena memiliki adik yang lebih cantik dari saya.

Ketika memasuki masa kuliah, saat itu saya sudah mengambil jurusan hukum di Universitas Andalas, Padang. Orang tua kami tadinya sudah menyarankan adik saya untuk kuliah ditempat yang sama dengan saya. Namun dia menolak, dan memutuskan pilihannya sendiri. Ketika sudah kuliah dan masing-masing sudah bekerja, kami mulai menemukan siapa diri kami masing-masing. Saya tak lagi mempedulikan adik saya yang lebih cantik dari saya, karena pada akhirnya ketika memandang cermin, saya toh menemukan wajah yang tak jauh berbeda dengan dia. Saya mulai fokus pada apa yang menjadi kelebihan saya dan menjadi diri saya sendiri yang percaya diri dengan apa yang saya miliki. Namun 1 hal yang masih menjadi pekerjaan rumah saya, bahwa saya harus merekatkan kembali hubungan dua saudara perempuan yang tanpa disadari telah renggang hanya karena ketidakdewasaan saya.

Namun karena keberadaan kami yang terpisah, saya di Jakarta dan dia di Medan, saya tak punya cukup waktu untuk melakukannya. Yang sering terjadi justru ketika kami berada pada tempat yang sama adalah bertengkar dan saling diam. Well, urusan kakak beradik ini ternyata tak pernah semudah membalik telapak tangan. Pada satu titik, saya sempat menyerah. Toh, banyak saudara yang tak pernah akur. Saya juga tak harus akur  dengan adik saya. Hingga suatu ketika saya melihat buku Chicken Soup for the Sister’s Soul di Gramedia dan tergerak membelinya. Halaman demi halaman yang saya baca semuanya menceritakan 1 hal, pengalaman mereka dengan saudara perempuan masing-masing. Mulai dari kasih sayang dan dukungan mereka terhadap satu sama lain, ikatan yang terjalin diantara mereka, serunya kebiasaan mereka sebagai saudara, cara mereka mengatasi hambatan untuk satu sama lain, serta berbagi kenangan manis masa kecil. Tak perlu waktu bagi saya membaca seluruh isi buku untuk mengetahui bahwa saya kangen ‘bersaudara’ dengan adik saya. Kami seharusnya adalah sahabat pertama bagi satu sama lain untuk bercerita apapun. Alih-alih, saya menjadikannnya sebagai sebuah persaingan. Saya seharusnya ada untuknya untuk setiap momen pertama kali dia dalam hal apapun. Tapi saya justru memilih berpaling.

Bagaimana dengan adik saya? apa yang dia rasakan? Saya tidak pernah tahu. Bisa jadi dia menjaga jarak dari saya juga karena sikap yang saya tunjukkan padanya. Adik saya pada akhirnya tumbuh menjadi pribadi yang tertutup. Dia tak pernah menceritakan apapun masalahnya pada keluarga. Saya rasa, dia mencoba membuat lubang perlindungannya sendiri dari lingkaran diluar keluarga.

Apakah saya tinggal diam saja sekarang? Tidak, dan memang bukan hal yang mudah untuk mengembalikan semuanya. Kini saya harus memperlakukan ini bak semua misi untuk mendapatkan hati adik perempuan saya kembali. Entah mulai dari menelponnya, merencanakan travelling bersama, berbicara tentang pekerjaan kami masing-masing, dan apapun. Kadang ketika saling telepon kami akan saling curhat tentang apa yang kami alami dan tidak kami sukai. Bahkan ketika melihat sesuatu atau seseorang yang mengingatkan saya padanya, saya akan segera menelponnya dan kami mungkin akan tertawa selama 5 menit dan melanjutkan kembali apa yang kami kerjakan. Pada intinya, saya akan melakukan apapun untuk memperbaiki hubungan persaudaraan yang pernah saya sia-siakan hanya karena cemburu buta.

Saya hanya ingin, disisa waktu persaudaraan yang kami punya, saya bisa selalu jadi orang yang ada untuk mendampinginya, selalu bisa ditelponnya siang dan malam, dan menjadi sahabatnya untuk saat apapun. Ketika kita menyakiti salah satu pihak dalam persaudaraan, maka sesungguhnya kita juga menyakiti diri kita sendiri. Namun ketika kita mencintai mereka, sejatinya kita juga mencintai diri kita. Karena seperti ucapan seseorang, saudara perempuan itu adalah seperti bunga yang berbeda dari kebun yang sama.